Rabu, 06 Februari 2013

Kring-Kring Gowes


Pagi ini, seperti biasa, saya bangun jam 4.45. Bangun dengan badan yang terasa enteng karena semalaman sudah pakai koyok kaki (promosi dikit nih yee, heheh). Selain badan enteng, hati juga riang. Semalam, اَلْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنِ, saya dan suami bisa menghabiskan waktu bersama-sama, quality time.
Setelah sholat subuh berjamaah, mumpung libur, kami berduapun nggowes. Sudah beberapa minggu ini kami nggowes bareng. Sejak suami pindah base. Dulunya, basenya adalah kantor pusat BV di Jakarta, lalu BV Batam, dan sekarang BV Surabaya. Kalau dulu saya hanya bisa bertemu hubby pada week-end, sekarang lebih sering, meskipun sekarang daya jelajah survey nya malah jauh--seantero Indonesia.

Berangkat dari rumah jam 5.30. Rute pertama adalah alun-alun, ketemuan dengan teman-teman ex Smaxvi Sby yang lain. Ternyata hanya seorang teman yang ikut, Retno. Retno ini seorang narsis mania. Kemana-mana selalu bawa kamera pocket, demi bisa bernarsis ria. Dulunya saya pikir saya seorang narsis, tapi ternyata saya ga ada apa-apanya dengan kenarsisan Retno.
Setelah muter alun-alun beberapa putaran, kami melanjutkan nggowes ke kawasan Lingkar Timur, melalui kompleks perumahan Bumi Citra Fajar. Baru nyampe di gate BCF, Retno menemukan spot yang asik buat perpose. Katanya: "Sek Mbak, mandeg disik. Iki asik gawe foto". Akupun ngikut aja. Setelah beberapa shot, kami meneruskan ngengkol melewati jalan-jalan nama Pahlawan. Entah jalan apa saja tadi. Tidak terasa, sudah 18km kami muter-muter. Sudah lumayan kringatan. Akhirnya kami sepakat mencari kuliner yang cocok.
Memang, tiap kali nggowes selalu kami akhiri dengan kuliner. Pilihan kami adalah alun-alun kecil dekat kantor pos. Di situ banyak makanan yang tersedia. Ada PKL yang jual lontong kupang-lontong balap, rawon, bubur ayam, bakso, dan siomay-batagor. Saya memilih lontong kupang, sebab belum pernah mencoba kupang di sini.
Kupang seharga 7.ooo tanpa lontong itupun dalam sekejap berpindah ke perut. Tapi, menurut saya, kupang ini tidak seberapa gurih. Petisnya kurang enak. Saya lebih suka kupang terminal. Retno punya pilihan lain, bubur ayam. Memang bubur ayam di sini lumayan enak. Sementara suami lebih suka menikmati nasi rawon. Tapi rupanya nasi rawonnya juga nggak sipp, buktinya banyak 'kecehan'nya. Diapun memesan lagi siomay-batagor.
Siomay batagor di sini enak, namun agak mahal 8.000. Biasanya siomay di Pondok Jati dekat rumah harganya 7rb, tapi tidak seenak Siomay Pak Nandang ini. Matahari yang tadi sempat redup dan angin sepoi-sepoi membuat kami ngantuk. Sambil ngantuk menikmati semilir angin , sambil saya nulis. Mumpung mood.
Terima kasih atas segala rahmat--Mu, ya Allah. Bersyukur, kami masih bisa menikmati karunia sehat-Mu. Karunia yang tidak ternilai harganya.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيّدنا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ سيّدنا مُحَمَّد

Alun-Alun Sidoarjo, 24 Januari 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar