Seperti
biasa, pada tiap akhir tahun kantor suami: Beareau Veritas Indonesia (BVI)
divisi Marine Surveyor mengadakan annual meeting. Pada tahun ini, annual
meeting diadakan di Bandung.
Tahun lalu di Bali, tahun sebelumnya di Jogja, dan tahun sebelumnya lagi di Surabaya.
***
Pasti tidak
banyak orang yang mengenal nama BVI-Beareau Veritas Indonesia adalah sebuah perusahaan
sertifikasi milik pemerintah Prancis yang berdiri sejak tahun 1828 kalau tidak
salah. Banyak bidang sertifikasi yang ditangani oleh BV. Misalnya tahun kemaren
BVI lah yang menyertifikasi SPBU. Kalau kita lihat simbol "pasti pas"
di SPBU, berarti SPBU itu telah disertifikasi. Juga ada sertifikasi di bidang pendidikan, termasuk RSBI.
Ada lagi sertifikasi container. Namun di antara banyak divisi, divisi
Marine lah yang paling banyak mendatangkan pemasukan bagi BV. Sebab di dunia
ini, hanya ada 7 negara yang mempunyai kewenangan untuk menyatakan sebuah kapal
itu layak atau tidak dengan standar internasional. Salah satunya adalah
Perancis. Jika tidak ada sertifikat kelayakan internasional, maka sebuah kapal
tidak bisa berlayar di perairan internasional.
***
Kembali ke cerita semula, tahun ini, annual meeting di adakan di Bandung,
tepatnya di hotel Banana Inn, sebuah hotel cukup bagus di kawasan Jalan Setia
Budi, dekat dengan UPI-Universitas Pendidikan Indonesia. Entah hotel ini
memiliki berapa bintang, tidak ada keterangan, tapi lumayanlah ratenya- 840.000
untuk week-days dan 940.000 untuk week-ends. Memang, hotel-hotel dimana annual
meeting Marine division BVI diadakan, biasanya adalah hotel yang
"lumayan". Misalnya di Aston Kuta, Ibis Jogja, Novotel Surabaya, dll.
(Mungkin kalau saya sendiri, tidak akan menginap di hotel-hotel elit tersebut.
Eman, mahal, heheh).
Pesawat yang kami tumpangi-Garuda GA 360 rute Surabaya-Bandung dijadwalkan
berangkat pukul 11.25. Harusnya pukul 9 saya sudah pulang dari sekolah dan
berangkat ke Juanda.
Namun karena saya harus menuntaskan masalah nilai dan raport (terima raport
tanggal 22 Des) maka saya pulang agak terlambat. Pukul 9.30 saya berangkat dari
rumah di kawasan Sidoarjo. Sempat, suami merasa kesal dengan saya, sebab waktu
kami sangat mepet.
Dia dimintai tolong untuk mengambil dan membawakan titipin ibu temannya
dari Batam. Rumah ibu temannya di bilangan Pondok Wage Aloha, kawasan padat dan
macet. Kami berpacu dengan waktu. Alhamdulillh pukul 10.40 sampai juga di
bandara. Mobilpun diparkir di tempat parkir inap internasional (untuk Garuda,
keberangkatannya lewat international departure).
Di counter check-in tujuan Bandung, kondisi sudah sepi, hanya tinggal satu
orang ibu dan anak gadisnya. Setelah itu saya dan suami, dan di belakang kami
ada seorang bapak.
Masih ada 30 menit. Suamipun memutuskan untuk mampir di Blue Sky Lounge,
sebab dari pagi kami belum sarapan. Lumayan, makan prasmanan gratis. Baru saja
saya menikmati secangkir kacang ijo dan roti, terdengar suara lonceng sapi
berjalan.
Suara itu bukan suara sapi yang lagi melenggang, namun suara lonceng yang
dibunyikan oleh petugas lounge yang memberitahukan bahwa pesawat Garuda yang
kami tumpangi akan segera berangkat.
Kamipun masuk gate 8. Tidak lama setelah itu pesawat lepas landas.
Sepertinya, cacing-cacing di perut saya lagi unjuk rasa. Melilit perut rasanya.
Maklum, dari pagi hanya mendapat asupan segelas kacang ijo.
Begitu pramugari membagikan dus kue, langsung roti sosis itupun
berpindah ke perut. Rupanya begitu mendapat jatahnya, penghuni perut saya
berhenti demo. Sayapun memesan segelas kopi susu kepada pramugara dan pramugari
yang menawari minum. "Hmm, lumayan, diladeni wong ngganteng n ayu",
batin saya.
Perjalanan Surabaya-Bandung hanya memakan waktu 1 jam. Cuaca agak mendung.
Beberapa kali kami merasakn goncangan-goncangan. Setibanya di bandara Husein
Sastra Negara, suami mengurus bagasi, sementara saya mencari toilet. Biasa,
'beser', kata orang Jawa. Hanya kurang dari 10 menit bagasi kami sudah di
tangan. Tidak seperti di Juanda yang perlu
waktu lebih dari 30 menit.
Rupanya, untuk mendapatkan taxi, kami harus menyeberangi jalan kembar yang
ada di depan bandara. Ketika sedang menyeberang, tiba-tiba hujan turun deras
tanpa didahului gerimis. Sungguh tidak disangka tidak dikira. Sambil menggelinding tas koper, kamipun berlarian
menuju taxi. (Bersambung)
Banana Inn, 18 Desember 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar